![]() |
| Mbah Sukoyo, sosok pelestari penghijauan di Dusun Krecek, Desa Getas, Temanggung. (Kultur.id) |
TEMANGGUNG – Namanya Sukoyo, tapi bagi warga Dusun Krecek, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, ia lebih akrab disapa Mbah Sukoyo. Menginjak usianya 62 tahun, kakek ini tak memilih menghabiskan waktu dengan duduk diam di teras rumah menikmati masa tua.
Seperti pada pagi itu, 26 Januari 2026 atau Jumat Pon dalam kalender Jawa, Mbah Sukoyo berjalan berdampingan dengan seorang Bhikkhu perempuan berjubah oranye (Bhikkhuni Thitacarini) serta ibu-ibu berhijab dan para warga yang berpakaian adat Jawa. Mereka melangkahkan kaki beriringan memikul tenong, sebuah wadah berbahan bambu berisi makanan, nasi dan lauk.
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda itu menyusuri jalanan setapak yang membelah dusun Krecek menuju satu titik kumpul yang sama, yakni pemakaman Dusun Gletuk. Sebuah pelataran sunyi di mana para warga berlatar belakang perbedaan keyakinan, yakni Buddha, Islam, dan Kristen, melebur di depan nisan leluhur untuk merayakan tradisi Nyadran Perdamaian.
Di antara keriuhan ratusan warga, Sukoyo tampak duduk bersila. Wajahnya yang mulai digurati keriput menyimpan keteduhan. Tak disangka, namanya disebut Bupati Temanggung Agus Setyawan, untuk menerima bibit pohon pada acara Nyadran Perdamaian bertema "Merawat Alam, Menjaga Bumi" tersebut.
"Apresiasi luar biasa kepada Pak Mantan Kadus, Pak Sukoyo, yang sudah menerima Kalpataru atas kecintaan beliau terhadap alam," ujar Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong ini seraya mencium bibit pohon yang dia berikan kepada Mbah Sukoyo lantaran pernah meraih penghargaan Kalpataru Provinsi Jawa Tengah kategori Perintis Lingkungan Hidup pada 2024 lalu.
Warisan Sang Kakek tentang Nandur
Sukoyo tidak lahir sebagai aktivis lingkungan. Ia lahir sebagai anak desa pada 12 Februari 1964, tumbuh besar dengan melihat punggung kakeknya (simbah) yang selalu basah oleh keringat.
Ingatannya melayang ke masa kecil. Saat itu, ia sering membuntuti langkah Simbah menyusuri jalan setapak di perbukitan yang tak jauh dari jalur perbatasan Temanggung - Bandungan ini. Ia melihat bagaimana Simbah merawat saluran air, membersihkan semak yang menghambat aliran, dan menanam pohon di lahan gersang. Simbah tidak pernah berpidato soal ekologi atau perubahan iklim. Simbah hanya bekerja dalam diam.
"Simbah saya tidak banyak teori, tapi ngelakoni. Saking mbah kulo, kulo wiwit cilik niku dherek kalih mbah kulo ngrawat sumber-sumber mata air," (Dari kakek saya, sejak kecil saya diajak merawat sumber-sumber mata air)," kenang Mbah Sukoyo dengan bahasa Jawa krama inggil yang santun.
Warisan itulah yang ia teruskan selama 30 tahun mengemban amanat warga sebagai Kepala Dusun (Kadus) Krecek. Sebelum mengajak warga, Mbah Sukoyo memulainya dari dirinya sendiri. Ketika tanah miliknya sudah rimbun, matanya mulai gelisah melihat bukit-bukit gundul di sekitarnya. Lahan-lahan kritis itu baginya adalah luka bumi yang harus diobati.
Maka, mulailah ia menanam di lahan orang lain, di tanah desa, di tebing curam. Ia memilih pohon-pohon penjaga air. Beringin yang akarnya mencengkeram tanah, aren yang menyerap hujan. Ia bekerja sendirian, ditemani Biah, istrinya yang setia.
"Nek sing kinten-kinten gundul nggih kulo tanduri wit-witan," (Kalau ada tanah yang sekiranya gundul, saya tanami pohon), sambung Mbah Sukoyo.
Di mata orang lain, mungkin ia terlihat aneh. Seorang lelaki yang menghabiskan tenaga mengurusi tanah yang bukan miliknya. Tapi bagi Mbah Sukoyo, air tidak mengenal batas kepemilikan tanah. Air mengalir untuk siapa saja.
Tujuannya satu, agar anak cucu di Desa Getas tidak kehausan dan sumber mata air tanah tumpah darahnya tetap mampu menghidupi warganya. Tanpa banyak teori, Mbah Sukoyo tidak hanya menanam pohon, tetapi dia sedang menanam masa depan.
"Saya tidak ingin anak, cucu, dan cicit saya nanti kesulitan air," pungkas peraih penghargaan Maskhun Sofwan Award dan Amarta Award (Amartha Local Heroes) dalam kategori Penjaga Alam.


